Oleh: Edi Ramawijaya Putra

Jika tahun ini kamu baru lulus SMA, SMK, MA atau sejenisnya dan berniat untuk melanjutkan ke janjang pendidikan tinggi, tentu banyak pertanyaan dan kebimbangan dalam hatimu. Pertimbangan tersebut sangat kompleks mulai dari menyoal kampus, program studi, biaya, ijin orang tua, cultural shock, dan berbagai pemikiran lain yang berkecamuk, mendorongmu untuk terus berpikir mendalam dan berdialog dengan diri sendiri. Hal ini biasa terjadi karena kuliah bukanlah persoalan pilihan tapi pengambilan keputusan.

Tahun 2002 lalu adalah momentum kritis bagi saya. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) idealnya memang harus bekerja pada sektor yang sesuai dengan kompetensi dan skill yang saya kuasai. Berbekal sertifikat “kompeten” akhirnya saya memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah dengan bekerja di sebuah hotel sebagai room boy. Dengan usia belia, memiliki penghasilan sendiri tentu sebuah kebahagiaan tersendiri, terlebih bisa memberi ke orang tua meski tidak banyak. Namun, terbesit dalam hati saya sebuah pertanyaan “apakah saya akan seperti ini selamanya”?.

Tahun 2003 saya mencoba mengikuti tes saring masuk perguruan tinggi negeri secara nasional bernama SPMB, dan akhirnya berhasil masuk di sebuah PTN dengan pilihan Program Studi sesuai harapan yaitu Pendidikan Bahasa Inggris. Lulus tepat waktu di tahun 2007 menyandang gelar Sarjana Pendidikan ternyata memberikan kesempatan luas dan dampak besar dalam hidup saya. Sebagai fresh graduate saya dapat bekerja paruh waktu di berbagai sekolah, lembaga kursus, pelatihan, pusat les, freelance, bahkan bisa membuka privat sendiri.

Di sini saya berargumen bahwa kuliah ternyata bukan hanya sekedar belajar tapi memperbaiki kualitas diri, mengembangkan passion yang selama ini digeluti dan yang paling penting menciptakan rasa percaya diri. Dengan memiliki kewenangan dan lisensi keilmuan formil ternyata dapat membuka berbagai kesempatan yang selama ini tertutup bahkan tidak terlihat. Di tengah masyarakat juga dapat berperan untuk merubah kebiasaan-kebiasaan kecil menjadi teladan bagi yang lain.

Memutuskan untuk kuliah adalah risk-taker bukan gambling, yang perbedaanya adalah anda sudah berbekal ke arah yang lebih baik bukan seradak-seruduk tanpa tujuan yang jelas untuk menang atau kalah. Dalam akhir proses perkuliahan, ijizah dan transkrip adalah bukti bahwa anda sudah berproses melalui berbagai tantangan, hambatan dan masalah yang tidak sedikit telah memberikan latihan gladi resik untuk kehidupan yang sebenarnya.

Anda harus menang melawan suara-suara bising dan aneh yang berdengung dalam kepalamu seperti kemalasan, ketidakpastian, dan ketakutan untuk memasuki dunia baru. Suara tersebut adalah mental block yang membatasi anda dari dalam untuk menjadi manusia yang potensial dan tumbuh menjadi pribadi pembelajar dan resilien (tahan) dan sirvived (bertahan). Tidak semua orang menang dalam pergolakan batin dan emosional ini, namun akan selalu lebih banyak orang lagi yang selalu haus ilmu dan pendidikan, bukan untuk menjadi tapi untuk berproses ke arah yang lebih baik.

*Penulis adalah dosen tetap di sebuah PTN seorang pembelajar yang terus belajar