Oleh: Edi Ramawijaya Putra
“ah banyak sarjana nganggur”, “lulusan S2 banyak jadi buruh pabrik”, “ngapain S1 gak jamin dapet kerja”, “mending langsung kerja dapet duit”, “wisuda segitu banyak apa ada lapangan kerjanya”. Narasi pesimistik tersebut kerap kali terdengar di tengah masyarakat kita sebagai bentuk stereotype terhadap kampus sebagai satuan pendidikan pencetak lulusan. Anihilasi dampak keberhasilan pendidikan tinggi yang telah mewujudkan sumber daya manusia yang memiliki daya tahan, imajinasi dan kepercayaan diri, jauh lebih redup terdengar. Fenomena ini menimbulkan lulusan perguruan tinggi banyak dicap sebagai pengangguran intelektual.
Harus diakui bahwa kultur kemasyarakatan kita di Indonesia masih menempatkan pemerolehan pekerjaan formal sebagai indikator keberhasilan berpendidikan tinggi. Masa tunggu serapan lulusan pada pemerolehan kerja pertama juga dijadikan indikator keberhasilan proses pendidikan yang dilalui oleh mahasiswa selama di kampus. Padahal faktor yang paling menentukan seperti tingkat pertumbuhan ekonomi yang berimplikasi pada ketersediaan lapangan kerja adalah yang paling menentukan rasio antara jumlah lulusan dan serapan pada industri dan dunia kerja.
Cerita sukses lain seperti keberhasilan untuk menciptakan sendiri lahan kerja melalui keberanian berwirausaha bahkan mampu merekrut orang lain jarang dijadikan sebagai penyeimbang bukti bahwa dampak dari proses pendidikan telah memberikan kepercayaan diri dan daya imajiner untuk membuka jenis usaha-usaha baru. Tidak sedikit juga lulusan perguruan tinggi yang kembali pulang ke daerahnya masing-masing mampu berperan menjadi agen perubahan sosial bagi masyarakat di sekitarnya. Atau, paling tidak terjadi perubahan besar dalam dirinya untuk lebih tangguh dalam menghadapi tantangan hidup.
Kultur masyarakat kita juga sering menjadi mental block bagi lulusan perguruan tinggi karena anggapan bahwa hanya menjadi “pegawai yang berseragam”lah menjadi satu-satunya contoh berhasil, liyannya tidak. Keberhasilan meningkatkan jiwa enterpreneur melalui upaya menciptakan sektor-sektor UMKM yang meski omsetnya lebih besar daripada menjadi pegawai negeri sipil belum menjadi sebuah ukuran keberhasilan. Semakin minimnya formasi CPNS dan PPPK karena keadaan fiskal pemerintah harusnya menjadi alarm publik bahwa lulusan perguruan tinggi tidak hanya dilihat dari profesi, melainkan peran dan agency-nya di tengah masyarakat sebagai civil role model dan resilient society.
Tantangan besar juga bagi pengelola perguruan tinggi baik dosen dan tenaga kependidikan serta pengambil kebijakan untuk terus menerus beradaptasi dengan perubahan dan kondisi global serta tantangan jaman. Dengan pemberlakuan kurikulum OBE (Outcome-based Education) diharapkan mampu untuk menghasilkan lulusan yang telah dibekali oleh sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang aplikatif dan adaptif. Selain itu, review dan rekonstruksi kurikulum harus kerap kali dilakukan sebagai respon terhadap dinamika kehidupan yang selalu mengalami perubahan cepat.
Tidak akan ada ilmu dan pengetahuan yang sia-sia, suatu saat pasti akan berguna dan bermanfaat. Pilihan untuk kuliah tidak boleh disandarkan pada dilema apakah suatu saat akan dapat pekerjaan atau tidak. Persiapan dan bekal kualifikasi pendidikan jauh lebih penting dari terbukanya kesempatan. Jika kesempatan belum datang paling tidak sudah memiliki kesiapan. Jika mereka yang tamatan kuliah saja merasa sulit mencari kerja bayangkan bagi mereka yang tidak pernah kuliah.

