Mari perdalam “circle of knowing” kita daripada “circle of wondering”. Di era disrupsi dan informasi kita tidak harus tau segala-galanya, ahli segala-galanya dalam berbagai bidang.
Bahwa tidak ada yang lebih paham soal mengobati pasien, selain dokter. Tidak ada yang lebih paham soal cocok-tanam selain petani. Meski dokter juga tau soal pertanian atau petani tau jenis-jenis penyakit.
Dalam naskah kuno berjudul “the art of rethoric” para filsuf meyakini bahwa kemampuan meyakinkan lawan bicara diperoleh dari isi, narasi dan diksi. Sudah cukup capable-kah kita ketika bicara soal disiplin tertentu? Ada kata-kata bijak dari Melayu “Bicaralah sesuai tinggi badanmu”. Silakan interpretasi
Thus, perilaku hoax tidak akan terjadi jika sesorang memiliki filter/saringan pengetahuan yang dilandasi oleh adab dan etika, plus estetika karena masuk dalam interaksi ruang publik.
Jika kita menerapkan ini, jaman se-disruptif apapun manusia akan selalu menang selangkah dari peradaban teknologi.
Termasuk ada yang “nampak kompeten”. Jadi, yang sedang-sedang sajalah memberi komentar, justifikasi, nyinyirisme, dan argumentasi.
Perdalam apa yang menjadi fokus usaha, pekerjaan, rutinitas, dan keseharian kita. Meminjam kata Seorang Pegiat Medsos pak Ndul kita harus menjadi ahlinya-ahli, intinya-inti, core of the core.
Penulis: Edi Ramawijaya Putra

