Menggunakan maskapai Thai Airways saya menempuh rute perjalanan dari Jakarta, transit di Bangkok, lalu Instanbul lalu terbang menuju Wina. Itinerary ini sengaja diambil untuk menghindari rute transit di negara Timur Tengah mengingat situasi global yang tidak menentu. Bersama dengan para delegasi yang dipimpin oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu), kami bertemu di titik kumpul Istanbul (Turki), rombongan kami tiba di Bandara Flughafen Wien-Schwechat dan langsung disambut oleh tim Kedutaan Besari Republik Indonesia (KBRI) bersama Duta Besar Indonesian untuk Austria dan Slovenia.

Hari pertama, dilakukan penyambutan dan dialog bilateral tentang best practices harmoni dan kerukunan dari masing-masing negera oleh para delegasi. Kegiatan ini didesain tidak terlalu tekstual, teoretis atau akademis tapi bersifat saling kuatkan dalam konteks posisi agama di negara masing-masing dan bagaimana mengelola dan memelihara keberagaman agama. Pihak Austria mengakui bahwa agama-agama dan eksistensinya di negara mereka sangat dinamis. Terdapat 16 agama yang secara sah diberikan legalitas oleh negara. Sedangkan dari pihak Indonesia kami memaparkan kebhinekaan dalam payung ideologi bangsa yang berdasar Pancasila dan dinamika hubungan agama-agama yang hidup di Indonesia serta bagaimana relasinya dengan pemerintah, isu sosial, budaya, politik, dan pendidikan.

Graz merupakan kota besar di Austria selain Salzberg, Halstat dan Wina. Kota yang sejuk karena beririsan dengan aliran sungai-sungai yang mencair dari pegunungan Alpens. Dalam dialog bilateral ini kami tidak hanya berdiskusi namun juga berkesempatan melihat dari jarak dekat bagaimana kehidupan sekuler dan keberadaan warga yang terkesan sibuk sendiri namun tetap aware dengan batasan aturan dan hak mereka. Kami diinapkan oleh pihak Austria di sebuah hotel yang strategis dan dekat dengan pusat aktivitas warga dan bisnis sehingga selain tugas negara kami juga berkesempatan berinteraksi menikmati pergerakan sosial di negera yang disebut sebagai “the most liveable country in the world”.

Dalam kegiatan ini para perwakilan delegasi dari kampus termasuk Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya juga diminta memberikan paparan tentang sejauh mana implementasi dari moderasi beragama di satuan pendidikan masing-masing. Saya sebagai Ketua (Pimpinan Kampus) tentu memaparkan tentang bagaimana usaha, interaksi dan upaya terus menerus yang dilakukan oleh civitas akademika di STABN Sriwijaya dalam menjaga interaksi sosial yang bermakna dan saling menghargai, bukan hanya sekedar toleran pasif tapi memanfaatkan ruang perjumpaan ini sebagai momentum untuk mengasah kesetaraan dan tenggang rasa dalam batasan-batasan keimanan yang jelas. Berdasarkan dari pengamatan dan data empiris yang saya dapatkan bahwa moderasi beragama di kampus bukanlah zona nyaman tapi zona yang perlu efforts dan usaha sadar untuk tidak terjebak dalam semu-nya toleransi yang pasif. Sebaliknya, moderasi beragama adalah proaktif dan komplementer dalam kegiatan akademik dan non-akademik di tingkat kampus. Paparan saya mendapatkan atensi serius dari delegasi berbagai negara karena keunikan dalam konteks pendidikan dan juga potensi riset aplikatif yang mungkin dapat dilakukan.

Bagian terkakhir dari kegiatan dialig bilateral dan konferensi akademik ini adalah penjajagan potensi kerjasama dengan dua universitas di Austria yaitu University of Graz dan University of Wina. STABN Sriwijaya bersama dengan CRCS Universitas Gadjah Mada, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Telkom Indonesia mendapatkan kesempatan berharga dalam rangka merancang action plan dan milestone kerjasama antar perguruan tinggi. Dalam momen ini saya sampaikan bahwa STABN Sriwijaya memiliki potensi kuat dalam riset isu keagamaan dalam konteks regional dan global. Dengan kekayaan kultural Indonesia serta keunggulan Nusantara banyak scholar dan academia yang tertarik dan ingin melakukan kerjasama dengan STABN Sriwijaya.


