Saya mencoba menginput frase “riwayat Buddha Gotama”, selang 2 detik, perplexity.ai kemudian memberikan respon tentang informasi yang menjawab input pencarian ini lengkap dengan informasi tambahan yang relevan untuk melengkapi jawaban utama. Tidak hanya jawaban utama, sumber lain seperti video, gambar, website URLs tersaji pada laman AI ini. Beberapa arsip pertanyaan yang mungkin memiliki keterkaitan dengan input pencarian juga sudah siap untuk di “click”.
Lalu saya mencoba memasukkan prompt “tuntun saya dalam bermeditasi” pada asisten AI Google, Gemini, lalu langkah-langkah bermeditasi mulai dari sikap, posisi, renungan, dan berbagai pilihan audio meditatif juga siap untuk dimasukkan dalam playlist untuk program tuntunan meditasi berikutnya. Di laman chatGPT saya mencoba memasukkan keyword “paritta” lalu beberapa detik kemudian muncul beberapa paritta utama seperti “Karaniya Meta Sutta”, “Manggala Sutta” lengkap dengan bacaan Pali, terjemahan Bahasa Indonesia dan penjelasannya dari sumber URLs.
AI juga dapat memberikan jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini mungkin tidak bisa belum lengkap dijawab oleh Guru atau dianggap “tabu” untuk ditanyakan misalnya “di usia berapakah Pangeran Siddharta menikah?” Atau “apakah “Pangeran Siddharta menelantarkan keluarganya?”. AI selain menjadi sumber pemuas ketidaktahuan juga pembebas dari belenggu keterbatasan atau minimnya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kritis yang selama ini berjelaga di bilik-bilik rasa ingin tau para murid.
Melihat fenomena ini, Guru Agama Buddha profesional harus berbenah dan adaptif. Proses menuju adaptasi terhadap AI ini harus diimbangi dengan usaha belajar, mengembangkan diri, bereksperimen dan berinovasi. Dari dalam diri Guru Agama Buddha harus “terbangun” keyakinan bahwa perubahan adalah niscaya dan kekuatan guru ada pada kemampuan untuk menerima perubahan tersebut “a good teacher embraces change”.
Di Era AI ini bukan berarti peran dan fungsi guru dapat tergantikan begitu saja. Pendidikan Agama Buddha tidak hanya transfer pengetahuan dan hafalan teks-teks agama tapi juga memperkuat keyakinan (saddha), moralitas (sila) dan pencapaian kebijaksanaan (pannya). Karakter dan profil hasil belajar PAB tidak hanya pintar tekstural dan dogmative-driven melalui evaluasi pencapaian kognitif, tapi juga karakter yang penuh empati (compassion), memiliki rasa takut dan malu akan akibat perbuatan jahat, memiliki ketahanan (virya bala), dan dapat menuntun diri ke arah yang benar (Attasammapanidhi ca).
Dengan demikian kompetensi Guru Agama Buddha harus di upgrade baik pedagogik dan profesional. Definisi terhadap peserta didik juga harus dirubah yang selama ini ditempatkan sebagai obyek ilmu menjadi agency yang membuat mereka secara autonomous memperkaya, menguatkan, memperdalam ilmu pengetahuan Agama Buddha yang didapat dalam ruang-ruang belajar di sekolah. Jika peran guru semakin adaptif terhadap AI ini maka outcome belajar akan lebih holistik dan liberatif baik pada aspek pengetahuan, sikap sosial, sikap spiritual dan keterampilan.
Tantangannya adalah lingkungan belajar harus di reformulasi tidak hanya sekedar pendekatan klasikal tapi juga holistik meliputi rumah, masyarakat dan dunia digital. Peran guru tetap sentral dalam mengharmonisasi sekolah, lingkungan, orangtua, dan dunia digital agar menjadi bagian yang terintegrasi terhadap pengalaman belajar yang dialami oleh siswa. Terlebih pendidikan Agama Buddha adalah persoalan nilai dan etika (budi pekerti), laboratorium praktik sebenarnya adalah dunia nyata yang kontekstual. Oleh karena itu, AI yang begitu masif tidak akan menggerus tugas guru.
Namun, jika perubahan paradigma tidak dilakukan Guru Agama Buddha akan “kalah jauh” berlomba dengan Artificial Intellegence yang setiap detik selalu selangkah lebih maju dari manusia. Adapt or perish!. Menghadirkan ruang kelas yang menyenangkan (joyful) dan dirindukan oleh murid adalah tantangan yang nyata untuk dilakukan oleh guru Agama Buddha. Memformat pendidikan Agama Buddha yang memiliki “rasa kemanusiaan” bukan “rasa robotik” ala AI harus terus dilakukan agar kelas-kelas pembelajaran PAB dan Budi Pekerti tetap menjadi sumber inspirasi.
Edi Ramawijaya Putra: penulis adalah seorang akademisi, mengajar di sebuah perguruan tinggi keagamaan negeri, aktif di forum ilmiah baik dalam maupun luar negeri. Selain melaksanakan tugas utama Tri Dharma perguruan tinggi juga tetap menulis untuk menjaga kewarasan, asupan ilmu dan untuk keabadian. Disclaimer: tulisan ini bersifat opini dan pemikiran terbatas dari saya, oleh karena itu semua tanggung jawab dari isi tulisan ada pada penulis.

