Oleh: Edi Ramawijaya Putra
Seperangkat isi, proses dan penilaian serta cakupan luaran sebagai indikator keberhasilan dari proses belajar sering dikenal dengan istilah kurikulum. Sebuah rancang bangun kurikulum pendidikan pasti disusun atas dasar kebutuhan dan perkembangan saat itu. Untuk menjawab tantangan jaman dan diharapkan menyelesaikan dimensi permasalahan masyarakat saat itu, Pancavidya menjadi satu-satunya jawaban yang di inject melalui pendidikan.

Kurikulum ini terdiri dari 5 bagian besar (five sciences) yang merupakan disiplin ilmu perpaduan antara eksata dan humaniora menggunakan pendekatan multidisipliner dan trans-disipliner. Pertama, śabda vidyā; atau shēng-míng adalah ilmu tata bahasa, grammarian, filologis, dan cenderung ke arah tujuan pemahaman terhadap bahasa-bahasa liturgi keagamaan dan tekstual atau kanonikal Buddha yang banyak menggunakan aksara sanskerta dan pali.
Kedua adalah hetu vidyā; atau yīn-míng adalah ilmu logika yang erat kaitannya dengan penggunaan sistem berpikir murni tingkat tinggi yang diharapkan dapat menjadi dasar analisis terhadap eksistensi, realita dan fenomena yang membutuhkan pijakan logika yang kuat agar tidak terjebak dalam pandangan keliru (saat ini dikenal dengan istilah logical fallacies). Pemahaman terhadap kebenaran mutlak membutuhkan logika yang kokoh agar dapat menerima keadaan dengan obyektif dan apa adanya.
Ketiga adalah cikitsā vidyā; atau yào-míng adalah ilmu pengobatan. Penyakit, wabah dan pandemi telah terjadi sejak jaman kuno, fenomena ini adalah hal yang biasa dan inheren dalam keseluruhan eksistensi kehidupan manusia dan lingkungannya. Oleh karena itu, the science of medicine ini tetap menjadi bagian dari kurikulum pancavidya yang tidak terpisahkan. Para scholar diharapkan mampu mengatasi persoalan dengan bereksperimen sesuai dengan kapasitas akses ilmu saat itu untuk menjadi penyembuh (dokter istilah sekarang) bagi yang mengalami sakit.
Keempat adalah adalah śilpa-karma-sthāna vidyā; atau gōngqiǎo-míng merupakan keterampilan gerabah, seni dan kerajinan tangan. Tidak sulit untuk memahami mengapa ilmu ini menjadi bagian dari kurikulum jika kita melihat banyak peninggalan dan tinggalan kerajaan Sriwijaya berupa prasasti, kendi, rupang Buddha dan Bodhisatva, piring, plat serta peralatan rumah tanggal yang terbuat dari bahan alami seperti tanah liat dan batu alam. Selain menjadi hadiah bagi pemimpin juga merupakan sumber ekonomi karena masa keemasan Sriwijaya sangat dikenal dengan jaringan maritim dan perdagangan lintas teritorial.
Kelima adalah adalah adhyātma vidyā; atau nèi-míng yaitu ilmu yang berkaitan dengan, filsafat spiritualitas dan studi keagamaan Buddha (Buddhist Studies) dari berbagai sumber teks. Banyak yang berspekulasi bahwa setiap scholar buddhis jaman dulu yang ingin belajar di Nalanda terlebih dulu harus menyelesaikan pendidikan di Muaro Jambi ini. Hal ini diperkuat oleh hasil-hasil penelitian bahwa ada kemiripan isi kurikulum yang dibelajarkan di Universitas Buddhis tertua di dunia yaitu Nalanda di India dengan pancavidya.
Jika dilihat dari aspek desain kurikulum, pancavidya sudah mencakup isi pendidikan mulai dari aspek keterampilan yang bersifat aplikatif hingga capaian pengetahuan merangsang berpikir tingkat tinggi dan filsafati. Belum ada temuan atau bukti arkeologi yang otentik tentang isi langkap dari masing-masing bagian sehingga kita tidak bisa mendeskripsikan silabus dan materi ajar yang dibelajarkan. Namun, melihat rekam jejak dari lulusan perguruan tinggi ini tentu tidak diragukan lagi proses, isi dan evaluasi yang gunakan.
Sebut saja, Atisha Dipamkara Srijana yang merupakan guru spiritual dari Dinasti Pala yang sempat belajar di Sriwijaya untuk mempelajari ajaran Prajnaparamita. Jika melihat dari catatan sejarah, Sriwijaya pada kisaran antara abad ke-7 hingga ke-11, dikenal dengan daerah Swarnadipa (Sumatera Bagian Selatan saat ini) selama 400 tahun menjadi pusat pembelajaran terkenal, terluas dan terbesar saat itu. Catatan I-Tsing juga menjelaskan keberadaan seorang Maha Guru yang bernama Dharmakirti (Guru Svarnadipa, atau Serlingpa Dharmakirti) yang merupakan guru besar yang sangat dihormati di Sriwijaya.
Esensi dari keberadaan kurikulum adalah untuk mencapai tujuan dari pendidikan yang didasarkan pada cita-cita melakukan transformasi sosial menuju sistem kemasyarakatan yang makin maju, berkembang dan sejahtera serta agile terhadap kendala dan hambatan yang dihadapi. Seperangkat disiplin yang dipelajari dalam pancavidya pasti memiliki fondasi reasoning yang aktual dan kontekstual saat itu mengapa sistem belajar pañcavidyāsthāna menjadi cita rasa pendidikan nusantara.
Jika dilihat dari dimensi ilmu pancavidya terdiri dari dua yaitu pure science (hetu, adhyātma) dan applied science (śabda, cikitsā, śilpa-karma-sthāna). Berdasarkan pada disiplin ini sangat jelas bahwa profil dari lulusan tidak hanya menjadi ahli agama tapi juga diharapkan memiliki keterampilan dan keahlian yang berdampak untuk menolong mahluk lain (misal: pengobatan).
Kompetensi yang disasar juga bersifat plural tidak hanya pada satu bidang (misal: teologi keagamaan saja). Tidak memisahkan antara pengetahuan agama (religious science) dan ilmu-ilmu disiplin sekuler. Oleh karena itu pancavidya sangat relevan jika dijadikan dasar filosofi untuk mendesain kurikulum baru atau melakukan review terhadap kurikulum yang ada saat ini pada semua jenjang dan satuan pendidikan. Terlebih dalam konteks dekolonialisasi pendidikan, Indonesia harus bangga membebaskan dirinya dari cengkraman hegemoni eurocentric yang secara sistemik telah mempengaruhi sistem pendidikan kita saat ini.
Pancavidya adalah kecerdasan indigenos dari leluhur kita yang otentik dan telah terbukti menghasilkan cendikia, pemikir dan sarjana yang berkualitas bertahan ratusan sebagai sistem yang di rekognisi dan diakui oleh masyarakat terdidik di seluruh dunia. Inilah heritage kita yang tidak berwujud yang pernah ada di bumi Nusantara ini.
*Penulis adalah seorang akademisi mengajar di sebuah perguruan tinggi keagamaan negeri, aktif di forum ilmiah baik dalam maupun luar negeri. Selain melaksanakan tugas utama Tri Dharma perguruan tinggi juga tetap menulis untuk menjaga kewarasan, asupan ilmu dan untuk keabadian. Disclaimer: tulisan ini bersifat opini dan pemikiran terbatas dari saya, oleh karena itu semua tanggung jawab dari isi tulisan ada pada penulis.

